kebaikan

June 10th, 2007 by daveco

Adalah seorang tentara Inggris yang berada pada akhir perang dunia pertama (PD I) yang bernama Prajurit Henry Tandey anggota Resimen Duke Wellington AD Inggris. Tandey berada di medan tempur Marcoing Perancis pada bulan September 1918. Resimennya harus menguasai desa Marcoing berikut Jembatannya, Tandey dengan berani menorobos hujan tembakan pasukan Jerman dan memasang balok balok kayu diatas sungai sehingga pasukannya bisa menyeberang dan menyerang posisi Jerman bahkan hingga pertempuran jarak dekat menggunakan bayonet.

Dalam pertempuran jarak dekat yang sengit itu, sebuah peristiwa yang sangat bermakna bagi Tandey dan sejarah dunia terjadi, ketika seorang tentara Jerman yang terluka dan tertatih t5atih berjalan di depannya tepat diujung laras senapannya. Tentara itu hanya menatap Tandey, pasrah menghadapi maut yang bakal merengutnya. Tetapi Tandey tidak tega dan tak jadi membidiknya, “saya tidak tega “ katanya di waktu yang lain.

Pasca pertempuran di Marcoing Tandey mendapatkam medali Victoria Crosss yang disematkan langsung Raja George V di Istana Buckingham atas keberanian dan kemurahan hati di medan pertempuran Marcoing berikut lukisan yang menggambarkan Tandey memapah rekannya yang terluka di Pertempuran Ypres yang dibuat oleh seniman Italia Fortunino Matania

Dan dalam usia 35 tahun Tandey pension dari militer dengan pangkat Sersan Mayor. Dan dia hidup tenang tanpa mengungkit ungkit lagi masalah perang.

Tentara Jerman yang diberi kemurahan hati itu tidak melupakan Tandey bahkan dia mencari copy dari lukisan Fortunino Matania dan dipasang di tempat peristirahatannya di Barchtesgaden. Tentara Jerman tersebut juga menyampaikan salam terima kasih lewat PM Inggris  Chamberlain yang berkunjung di Jerman tahun 1938.

Sepulangnya dari Jerman Chamberlain menelpon langsung kepada Tandey atas kemurahan hatinya terhadap tentara  Jerman tersebut, tetapi pemberitahuan tersebut justru menjadi mimpi buruk yang selalu menghantuinya sepanjang sisa hidupnya, dia menyesali peristiwa di Marcoing tersebut karena tentara Jerman yang seharusnya ditembaknya adalah Kopral Adolf Hitler.

(sumber Darma Aji, Menantang Diktaktor Konspirasi Rahasia Anti Hitler)

sayangnya kita tak pernah mendapatkan ilmu yang sama seperti yang dimiliki nabi Khidir. Dulu aku menganggap Musa benar karena kebaikan adalah ditegakkan dengan akal/rasio seta realitas bukan berandai andai terhadap masa depan tetapi contoh cerita diatas membuyarkan bangunan kesadaran berpikirku bahwa terkadang peristiwa ke depan atau di hari esok belum tentu bisa seperti yang kita lakukan atau kita kerjakan

terima kasih ceritanya merupakan pencerahan bahwa kebaikan yang kita tanam sekarangpun belum tentu memanen kebaikan pula

Bookmark and Share

kebaikan yang kita tanam belum tentu memanen kebaikan pula

June 10th, 2007 by daveco

Adalah seorang tentara Inggris yang berada pada akhir perang dunia pertama (PD I) yang bernama Prajurit Henry Tandey anggota Resimen Duke Wellington AD Inggris. Tandey berada di medan tempur Marcoing Perancis pada bulan September 1918. Resimennya harus menguasai desa Marcoing berikut Jembatannya, Tandey dengan berani menorobos hujan tembakan pasukan Jerman dan memasang balok balok kayu diatas sungai sehingga pasukannya bisa menyeberang dan menyerang posisi Jerman bahkan hingga pertempuran jarak dekat menggunakan bayonet.

Dalam pertempuran jarak dekat yang sengit itu, sebuah peristiwa yang sangat bermakna bagi Tandey dan sejarah dunia terjadi, ketika seorang tentara Jerman yang terluka dan tertatih t5atih berjalan di depannya tepat diujung laras senapannya. Tentara itu hanya menatap Tandey, pasrah menghadapi maut yang bakal merengutnya. Tetapi Tandey tidak tega dan tak jadi membidiknya, “saya tidak tega “ katanya di waktu yang lain.

Pasca pertempuran di Marcoing Tandey mendapatkam medali Victoria Crosss yang disematkan langsung Raja George V di Istana Buckingham atas keberanian dan kemurahan hati di medan pertempuran Marcoing berikut lukisan yang menggambarkan Tandey memapah rekannya yang terluka di Pertempuran Ypres yang dibuat oleh seniman Italia Fortunino Matania

Dan dalam usia 35 tahun Tandey pension dari militer dengan pangkat Sersan Mayor. Dan dia hidup tenang tanpa mengungkit ungkit lagi masalah perang.

Tentara Jerman yang diberi kemurahan hati itu tidak melupakan Tandey bahkan dia mencari copy dari lukisan Fortunino Matania dan dipasang di tempat peristirahatannya di Barchtesgaden. Tentara Jerman tersebut juga menyampaikan salam terima kasih lewat PM Inggris  Chamberlain yang berkunjung di Jerman tahun 1938.

Sepulangnya dari Jerman Chamberlain menelpon langsung kepada Tandey atas kemurahan hatinya terhadap tentara  Jerman tersebut, tetapi pemberitahuan tersebut justru menjadi mimpi buruk yang selalu menghantuinya sepanjang sisa hidupnya, dia menyesali peristiwa di Marcoing tersebut karena tentara Jerman yang seharusnya ditembaknya adalah Kopral Adolf Hitler.

(sumber Darma Aji, Menantang Diktaktor Konspirasi Rahasia Anti Hitler)

sayangnya kita tak pernah mendapatkan ilmu yang sama seperti yang dimiliki nabi Khidir. Dulu aku menganggap Musa benar karena kebaikan adalah ditegakkan dengan akal/rasio seta realitas bukan berandai andai terhadap masa depan tetapi contoh cerita diatas membuyarkan bangunan kesadaran berpikirku bahwa terkadang peristiwa ke depan atau di hari esok belum tentu bisa seperti yang kita lakukan atau kita kerjakan

terima kasih ceritanya merupakan pencerahan bahwa kebaikan yang kita tanam sekarangpun belum tentu memanen kebaikan pula

Bookmark and Share

susah juga…

January 19th, 2007 by daveco

ternyata susah juga ya, memulai sebuah idealisme dengan usaha itu, bahkan nyaris tanpa dukungan yang berarti dari orang orang sekitar kita

parahnya lagi, saya justru dianggap menyia nyiakan kesempatan yang telah ada.
kuliah lama tujuh tahun tapi hanya buat jadi seorang penjaga warnet,

udah gitu perlu modal lagi untuk jaga warnetnya

cuman satu kata istiqomah saja deh, smoga bisa

Bookmark and Share

bingung

June 9th, 2006 by daveco

ketul banget pikiranku hari ini
gak tahu apa yang ingin aku katakan

Bookmark and Share

haruskah

May 17th, 2006 by daveco

haruskah saya bilang betapa bodohnya negara ini
karena tidak paham dengan rakyatnya,
bagaimana logikaku dipaksa untuk menerima
kenaikan harga eceran tertinggi pupuk
digunakan untuk kesjahteraan bangsa
bagaimana mungkin rakyat yang 44% adalah petani
menjadi sejahtera bila pupuk naik
tapi harga panenya tidak

Bookmark and Share

banyak sekali

May 15th, 2006 by daveco

dari 100 rupiah bila 200 juta mau ngumpulin akan terkumpul, 20 milyar banyak sekali bukan
dan itu bisa kita buat sebagai dana beasiswa bagi keluarga miskin
ah…. aku bermimpi lagi!

Bookmark and Share

2 golongan besar

May 12th, 2006 by daveco

ada 2 golongan besar dalam peradaban ini dari peradaban yunani sampai western yaitu budak dan pemikir

Bookmark and Share

sungguh kaya kita

May 8th, 2006 by daveco

sungguh kaya kita
memiliki 500 bahasa dan 300 suku bangsa
sungguh kaya kita dengan 18.000 pulau
sungguh kaya kita dengan jutaan lagu lagu daerah
sungguh kaya kita dengan seni pertunjukan dan sendratari di zamrud khatulistiwa
sungguh kaya kita dengan ragam pakaian tradisional
sungguh kaya kita dengan 40 kesultanan di Nusantara
sungguh kaya kita dengan khasanah arsitek rumah adat

tapi sayang kita lebih suka ngomong dengan bahasa asing atau campuran, lebih keren disebut bule, banyak pulau tak punya nama dan diam saja waktu dicaplok orang lain, suka lagunya western dan nipon punya, asiknya nonton biskop, J style abis, peduli amat ada segitu raja dan enaknya rumah gaya spanyol atau mediteran.

maka jangan marah kalau kita disebut bangsa dengan tingkat SDM 128 negara dari 140 negara

Bookmark and Share

mimpi

May 1st, 2006 by daveco

aku sedang bermimpi hari ini
menjadi presiden RI dan mengerahkan 2 divisi zeni tempur TNI untuk membangun jalur rel ganda yang menghubungkan semua kota di papua, soal anggaran naikan aja 10% dari pbb (pajak bumi dan bangunan) dan dalam beberapa tahun kedepan pasti papua menjadi maju
sekali lagi aku cuman mimpi

Bookmark and Share

konglomerasi buku

April 28th, 2006 by daveco

tahukah anda bila harga buku didasarkan atas biaya/jasa cetak x 10,
dan pembagian keuntunngan atau royalti seperti ini
10% untuk percetakan,
10% penerbit,
10% royalti pengarang
20% distributor
sisanya/ 50% pengecer atau toko buku,
jadi bila harga buku itu 100 ribu
maka 10 ribu adalah harga cetaknya
10 ribu ke penerbit
10 ribu buat kerja keras pengarang
20 ribu buat distributor
50 ribu atau sisanya buat toko buku

ADAKAH YANG SALAH

tidak ada yang salah tetapi
ketika gramedia hampir menguasai rantai ekonominya
semua dari percetakan, penerbitan, distribusi dan toko buku
maka ketika kita beli buku di toko buku dan terbitan gramedia
percayalah sebenarnya kita hanya ngasih 10% bagi orang yang sibuk memeras otak
yang lain masuk kantongnya gramedia

SAH SAH SAJA

saya hanya bermimpi(sekali lagi bermimpi)
suatu saat saya bisa beli buku dengan harga cetak+ royalti+penerbit+distribusi
atau dengan kata lain lebih nurah 50% dar harga sekarang
kapan????????????

Bookmark and Share